Saturday, 16 December 2017

Ketofastosis, Tren Gaya Hidup Sehat Cegah Penyakit Degeneratif

Founder Ketofastosis Indonesia, Nur Agus Prasetyo
memberikan seminar di Lampung, Minggu (3/12/2017).
Ketofastosis? Pertamakali mendengar gaya hidup ketofastosis, jujur saja saya nggak mudeng blas, sama sekali nggak ngerti. Apa itu ketofastosis? Bagaimana pola hidup dan pola makan yang diterapkan, benar-benar info baru bagi saya. Untungnya, pada Minggu (3/12/2017), saya diundang oleh Mbak Afriyah yang akrab saya sapa Mbak Fia. Oke, pag-pagi saya sudah datang ke LPMP Provinsi Lampung karena kegiatannya digelar di aula LPMP.

Disana sudah ramai dengan peserta, serta stand-stand makanan yang rendah karbo, seperti diabetasol, tropicana slim. Dan, ternyata, semua produk makanan serta penganan yang dijual di stand sudah diolah sedemikan rupa menjadi menu tanpa karbo atau disebut juga menu ketofay. 

Ada bubur dari olahan tepung konnyaku, mie dari shirataki, lontong dari olahan agar-agar swallow yang diberi santan, kerupuk kulit, kerupuk usus, kopi tanpa glukosa, olahan susu berupa kefir dan yogurt. Pokoknya, semua makanan ketofay diolah menggunakan bahan makanan tinggi lemak dan protein sedang, dan ingat TANPA KARBO!

Nah, penasaran dong dengan pola hidup yang satu ini, katanya pola hidup sehat, tapi kok tinggi lemak, protein sedang, dan no carbo. Yups, selama seminar, aku berusaha konsentrasi menyimak penjelasan langsung dari Founder Ketofastosis Indonesia,  Nur Agus Prasetyo yang akrab  disapa Mas Tyo.

Menurut Mas Tyo, gaya hidup ketofastosis merupakan gabungan antara fastosis (puasa) dan ketosis (menjadikan keton (lemak) sebagai bahan bakar utama bagi tumbuh). Menurut Mas Tyo, sebenarnya pola hidup ketofastosis ini sudah diterapkan oleh manusia sejak zaman pra sejarah/zaman es, dimana ketika itu manusia gua hanya mengonsumsi apa yang hidup di atas tanah yaitu hewan, karena tidak ada tumbuhan yang hidup di zaman es.
Setelah makan, manusia pra sejarah kembali ke gua, dan akan keluar lagi untuk berburu mencari makan setelah beberapa hari hingga beberapa minggu.

Pola hidup manusia pra sejarah ini membuktikan daya hidup (survival) yang luar biasa. Pola puasa yang dikuti dengan konsumsi makanan tinggi lemak, protein sedang dan no carbo serta olahraga  itu membentuk postur kuat (berotot), imun kuat, serta daya hidup yang teruji hingga beberapa abad. 

“Nah, kita lihat pola hidup zaman sekarang, dimana kita dikepung dan diserbu oleh makanan tinggi karbohidrat, glukosa, semua ada di mana-mana. Apa dampaknya bagi kesehatan manusia? Obesitas, penyakit degeneratif, mulai dari diabetes, kolesterol, jantung, tumor, kanker, macam-macam. Itu penyebabnya apa? Karena manusia modern tidak bisa mengontrol mulutnya, ngunyah terus, ngunyah lagi, jadi kunci hidup sehat itu di Fasting (puasa),” ujar Mas Tyo.

Menurut dia, walaupun kita mengonsumsi makanan yang dinilai sehat, tapi dimakan secara berlebihan, dampaknya tetap tidak sehat. Karena itu, lanjutnya, pola puasa ini digabungkan dengan ketogenik yaitu menjadikan keton (lemak) sebagai sumber bahan bakar utama bagi tubuh.

“Untuk menjadikan keton sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi bagi tubuh, glukosanya harus dihilangkan dulu, kenapa? Karena jika darah kita masih tinggi gula, maka tubuh akan mengambil gula sebagai sumber energi sebab itu yang paling mudah dipecah menjadi ATP atau energi. 

Ini lah pentingnya fasting untuk menurunkan gula dalam darah sehingga insulin ikut turun, jika insulin turun, tubuh akan merespon dengan memerintahkan lever menghasilkan keton  untuk kemudian diolah menjadi energi, inilah yang disebut ketofastosis,” ujarnya.

Lalu, apakah bahaya jika gula darah rendah? Dan menusia tidak mengkonsumsi gula dari luar, dari makanan? Mas Tyo menjelaskan, karbohidrat merupakan salah satu nutrisi non essensial, tidak essensial diambil dari makanan karena dapat dihasilkan sendiri oleh tubuh. Menurut dia, jika tubuh tidak memasukkan karbo/gula dari luar (makanan), maka lever akan menghasilkan gula sesuai kebutuhan tubuh.




“Inilah bedanya gula yang dikonsumsi dengan gula yang dihasilkan tubuh karena tubuh pasti akan menghasilkan gula sesuai kebutuhan, sedangkan kita selalu mengikuti selera, bukan kebutuhan, ahh enak nih, makan karbo, enak nih, makan karbo lagi, padahal itu sudah berlebih dalam tubuh, tetap saja makan. Akhirnya, gula berlebih dalam darah akan diolah menjadi lemak untuk disimpan di jaringan bawah kulit,” tuturnya.

Jika manusia masih saja mengonsumsi karbo dalam kondisi gula darah yang sudah berlebih, maka lama kelamaan insulin akan kecapean, dan akhirnya gula dalam darah tinggi, konsekuensinya oksigen dalam darah turun, dan ini akan berdampak kepada buruknya respirasi sel. Inilah yang kemudian menyebabkan berbagai penyakit degeneratif dan sindrom metabolisme.

Mas Tyo memaparkan beberapa perbedaan sumber energi dari gula dan keton. Menurut dia, orang yang menjadikan glukosa/karbo sebagai sumber energi akan merasakan pusing, mual, gelap, lemas, dan perut perih jika gula darah turun.

“Ini memang gejala metabolisme yang terjadi saat gula darah rendah. Berbeda dengan keton, bagi mereka yang sudah menerapkan gaya hidup ketofastosis, tidak akan pernah merasakan sindrom metabolisme seperti itu, sebaliknya, semakin tubuh dibawa bergerak, berolahraga justru semakin segar, semakin fresh, semakin fit, itulah pembakaran keton. Jadi, ada tiga hal yang tidak boleh dilepaskan dari gaya hidup ketofastosis yaitu puasa, ketosis, dan olahraga,” katanya.

Beberapa anggota Ketofastosis Indonesia dan Lampung memberikan testimoni tentang manfaat ketofastosis terutama dalam mengatasi penyakit regeneratif yang mereka alami. Ubaidillah misalnya yang awalnya memiliki masalah obesitas dengan berat badan 108 kilogram, selama beberapa bulan menerapkan pola hidup ketofastosis berat badannya stabil di 65 kilogram.

Tidak hanya itu, penyakit gatritis kronis yang sudah lama dia idap, secara perlahan mengami penyembuhan, termasuk masalah sendi yang selama ini dia alami dengan kehilangan kemampuang menggenggam. “Dulu, kalau gatritis kambuh, bisa diopname karena sesak didada, panas, susah bernafas, tapi sekarang Alhamdulilah saya sudah lepas dari semua keluhan itu. Ini dulu jemari tangan kanan saya ini tidak bisa dikepal, sekarang saya sudah bisa mengenggam,” ujar Ubaidillah.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Ketofasosis Lampung, Arif Wahyudi mengatakan komunitas ini dibangun untuk saling menguatkan, saling berbagi dan saling sharing menu serta nutrisi haris yang harus dikonsumsi. Menurut dia, dulu menu ketofastosis sulit didapatkan, harus di pulau jawa dan harga mahal. Namun, sejak berdirinya komunitas tersebut, sudah banyak anggota yang kreatif melakukan olahanan makanan bagi para ketofay.

“Jadi, komunitas ini juga berfungsi untuk menyediakan nutrisi dan olahanan makanan bagi para ketofay,” kata Arif Wahyudi. Selain itu, lanjutnya, menerapkan gaya hidup ketofastosis di zaman modern sangat berat, tidak jarang, para ketofay dibully baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Untuk itu, komunitas ini menjadi salah satu wadah untuk curhat dan saling menguatkan agar para ketofay tidak kembali ke pola hidup yang lama. “Ketofastosis ini gaya hidup, jadi ini pilihan, sama seperti vegetarian misalnya, maka harus konsisten selamanya,” kata dia.

Seharian mengikuti seminar Ketofastosis Solusi Penyakit Metabolisme dan Degenaratif memberikan banyak wawasan dan pemahaman tentang tren gaya hidup yang satu ini. Kembali ke diri sendiri, hehehe, kuat nggak ya? Ntar dulu deh, kalau low carbo sih aku sudah terapkan !


(RINDA MULYANI)

Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.

4 komentar

Masih jd perdebatan sih.
Tapi suamiku nyobain, selain BB berkurang jg udah ngrasa jd lbh sehat skrng dibanding dulu

Iya mbak Aprillia, sebagian besar yang mencoba ketofastosis merasakan dampak kepada kesehatan tubuh mereka. tapi aku sendiri masih nggak kuat untuk benar-benar no carbo,hehehe

Wahhh udah lama aku penasaran sama ketofastosis mbak.. Jadi ada gambaran setelah tulisan ini.. Model2 saya sih emmmmmmm.. Pengen sih.. Tapiiii.. Ntar ga bisa makan baso sony berarti yaa..xixiixix

di lampung ada paguyuban ketofastosis mbak, komunitas ini udah bikin bnayak menu, justru kalau bakso mah lebih enak karena tepungnya dikit, isinya daging dan lemak, tepungnya diganti dengan agar-agar swallow, terus dikasih telur. kalau tertarik, coba aja cari di facebokk akun Afriyah Fia, salah satu pengurus Paguyuban Ketofastosis Lampung...:D


EmoticonEmoticon