Tuesday, 14 November 2017

Bermain Squishy Asah Kreatifitas Anak

Mewarnai squishy.
Hari ini hari libur sekolah. Ruang tamu dalam kondisi berantakan, potongan spon bertebaran dimana-mana, ada juga lembaran-lembaran tisu yang sudah robek-robek, spidol acak-acakan. Dan, anaknya tertawa riang menunjukkan hasil karyanya. “Ma, lihat, ini squishy buatanku, slow lo Ma. Gimana Ma, bagus kan, ini ibloom peach,” kata anaknya yang saat ini duduk di kelas IV SDIT Miftahul Jannah, Rajabasa, Bandar Lampung. Tangannya meremas squishy buatanya yang diwarnai dengan spidol merah jambu muda.

Kini, ini menjadi aktifitas kami berdua di saat libur sekolah. Mataku sempat melirik tebaran potongan spon, tisu, dan peralatan lain yang acak-acakan, tapi segera aku abaikan. “Coba sini mama pegang,” ujarku. Anakku langsung memberikan squishy buatannya. “Aiiihhh, iya lo, lembut dan slow ya. Aura mah boleh lo, bisaan bikin squishy,” saat meremas squishy buatan anakku itu, rasa kesal melihat rumah yang berantakan langsung hilang. “Ya udah Nak, nanti kalau udah selesai kita beresin rumah bareng ya,” ujarku. Aktifitas membuat squishy ini sangat menyenangkan dan bikin ketagihan.

https://youtu.be/zvOPb_OVIBQ



Jujur saja, aku memilih membelikan spon, double tip, spidol dan tisu untuk membuat squishy home made karena harga squishy kan mahal banget. Kalau aku menuruti membelikan semua squishy keinginan anakku, jelas aku tidak akan sanggup, kantong bisa jebol. Dulu sih, awal anakku minta dibelikan squishy, aku selalu menolak. Sampai akhirnya, anakku menonton video cara membuat squishy, nah langsung deh dia minta dibelikan semua bahan untuk membuat squishy.

Permintaan yang satu ini aku turuti. Alasannya, dengan membuat squishy sendiri, jelas lebih murah, dan anakku bisa lebih kreatif. Dia belajar membuat sketsa gambar squishy yang diinginkan kemudian memotong spon sesuai sketsa tersebut. Belajar menempelkan double tip dengan rapi, memasang tisu dengan rapi, dan kemudian mewarnai squishy tersebut sesuai keinginannya.

Selain itu, aku juga ingin mengajarkan kepada anakku bahwa untuk mendapatkan mainan yang lagi tren tidak harus dengan membeli yang mahal-mahal dan menjadi konsumtif, tapi bisa lewat kreasi sendiri. Jadilah setiap libur sekolah, rumah berantakan oleh perbuatan kami berdua yang asyik membuat squishy.
 
Setelah memiliki beberapa squishy, anakku meminjam handphone, lalu masuk ke kamar. Awalnya aku biarin aja, paling dia mau nonton videonya Ria Ricis, si Ratu Squishy,hehehe. Namun, kok anakku kayak ngomong sendiri ya. Begitu aku intip ke kamar, disana sudah tersusun aneka squishy buatannya yang siap dijual. Bahkan, dia menulis nama-nama squishy miliknya, ada jumbo bread, ibloom peach, strowberry, kapibarasan, panda bun, dan lain sebagainya.

Ternyata oh ternyata, anakku membuat video home sale squishy! Yups, bertambah lagi satu kreatifitas anakku. Mungkin anakku tidak menyadarinya karena itu adalah hal yang dia senangi, tapi dia sudah belajar bermain peran, dan berwirausaha.

Tapi, ada nih satu tugas yang cukup berat ketika anak sudah asyik dengan squishy mainannya (apalagi kalau bermain home sale nya gabung dengan dua teman akrabnya), yaitu mengingatkan untuk tidak melalaikan shalat, dan tidak lupa belajar. Saat azan tiba, anakku harus selalu diingatkan. “Aura, ayo shalat dulu, setelah itu kalau mau main boleh main lagi. Kalau nggak shalat, berarti nggak boleh melanjutkan bermain karena syarat bermain squishy adalah tidak boleh melalaikan shalat!”. Harus tegas memang, tapi kami berdua sudah meyepakati aturan ini.

Baca Juga Berita-Berita Lampung 

(Rinda Mulyani)

Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.

2 komentar

Saking asyiknya main squishy ya mbk. Sampek lupa waktu. Hihi. Tp alhamdulillah ya mbk si kecil paham kalau udh waktunya berhenti main.
Aku mau ngenalin main ini jg ah sm si kecil ken

Iya Bund Inda, itu ngajarin manajemen waktu, memilih prioritas luarbiasa suliitnya mbak, jadi kadang harus tegas.. 😊


EmoticonEmoticon