Monday, 2 October 2017

Kota Tua Jakarta Ditengah Hujan Yang Basah

Gerimis sepanjang Kamis (28/9/2017) hampir saja mengurungkan niat saya untuk menjelajahi Kota Tua Jakarta. Namun, Ayuk Hesma tetap bersemangat mengajak saya mengelilingi kota yang terletak di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat tersebut.  “Ayolah, yang mahal itu adalah menuntaskan rasa penasaran, tidak bisa dibeli pakai uang. Kamu jauh-jauh dari Lampung, belum pernah main ke Kota Tua, masa kalah sama hujan!”. 

Pengunjung bersepeda di lapangan depan Museum Fatahilan, Kota Tua Jakarta.
     Saya tersenyum kecut membayangkan jalan-jalan di tengah hujan, tapi semangat Ayuk Hesma yang ingin membahagiakan saya tidak mungkin ditolak. Biasa kualat! Baiklah! Akhirnya saya dipandu Ayuk saya yang baik hati itu naik kereta menuju Stasiun Kota Tua. Selama duduk di kereta, kami masih berharap, rinai akan berhenti saat tiba nanti. Namun, begitu turun di Stasiun Kota Tua, justru hujan semakin deras membasahi Jakarta. Sudah tanggung nih untuk mengundur perjalanan. Kami bergandengan tangan menyeberang ke gedung-gedung tinggi yang dipenuhi para penjaja suvenir dan cemilan.
     Luar biasa, ternyata hujan yang cukup basah tidak menyurutkan semangat para pedagang kecil di sepanjang jalan Kota Tua. Bahkan, pedagang gorengan tampak menikmati rezeki yang melimpah. Beberapa pegawai di gedung-gedung Kota Tua mengantri di sepanjang trotoar demi mendapatkan gorengan panas yang baru matang.

Kafe Batavia.
     Alhamdulillah, syukur itu terucap spontan saat menyusuri pinggir gedung-gedung yang menjulang tinggi. Ternyata ada kenikmatan yang dapat diungkapkan saat mengelilingi Kota Tua di tengah hujan yang basah.
Memasuki halaman depan Museum Fatahilah, terdapat tenda besar yang ramai dengan para pria berbadan tegap berkaus loreng. Saat mendekati tenda tersebut, kami baru tahu ternyata tenda besar yang didalamnya terdapat panggung dan sound system tersebut untuk persiapan wayang merayakan Ulang Tahun TNI. Lumayan, naungan tenda tersebut menjadi tempat mampir yang nyaman sambil menikmati suasana sore di Kota Tua.
     Museum Fatahilah ini dulunya adalah kantor Gubernur Ali Sadikin, lalu pada 30 Maret 1974 dijadikan museum yang langsung diresmikan oleh Ali Sadikin. Museum ini juga dikenal dengan nama Museum Jakarta yang menyimpan banyak sejarah tentang Jakarta seperti prasasti dan penjara bawah tanah.
     Tidak hanya saya dan Ayuk Hesma yang nekad menikmati gedung-gedung tua yang lestari, tapi ternyata ramai anak muda dan keluarga yang berekreasi di Kota Tua, termasuk para turis mancara negara. Rinai malah menjadi momen asyik yang pantas dinikmati. Mereka berpose dan berfoto di tengah rintik hujan. Berpose dengan latar Meriam Si Jagur, Cafe Catavia, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Keramik, hingga patung orang Jenderal Sudirman. (Mau Tahu Wisata-Wisata di Lampung?)

Patung hidup para pahlawan.
     Lapangan Fatahilah juga dimanfaatkan para pengunjung untuk bersepeda ria. Brukk, dua remaja putri jatuh dari sepeda saat berbelok karena kondisi jalan yang licin akibat hujan. “Hahaha, ayo naik lagi,” keseruan dan keceritaan mereka menyempurnakan senja di Kota Tua. Tidak semua pengunjung menyukai hujan. Sebagian ada yang menghangatkan diri di dalam kafe-kafe Kota Tua seperti Cafe Batavia, Cafe Historia, Cafe Djakarte, dan Cafe Bang Kopi. Kafe-kafe tersebut menyediakan berbagai minuman hangat dan makanan ringan hingga berat yang mengenyangkan perut.
     Terimakasih Ayuk Hesma, traveling hari itu menuntaskan rasa ingin tahu saya tentang wisata Kota Tua Jakarta. Hujan tidak mengurangi kenyamanan suasana di Kota Tua. Air dari langit tersebut justru memberi kesan tersendiri, menghadirkan keindahan yang tidak tergantikan. 

(RINDA MULYANI)









Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.


EmoticonEmoticon