Monday, 4 September 2017

Rendang Rindu Ibuku

Tags

"APO kaba, Ma? Lai sehat? Lebaran ini Rinda ndak bisa pulang yo Ma. Nda mohon maaf  lahir dan batin,” dengan suara tercekat, aku mengirimkan kabar kepada orang tuaku di kampung, Lubuk Sikaping, Pasaman, Sumatera Barat. Sebenarnya hatiku tidak tega, karena aku tahu betapa orang tua sangat mengharapkan anak-cucu yang diperantauan berkumpul semua di hari nan fitri. Namun, kabar itu terpaksa harus disampaikan karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan.

Saat itu, jawaban dari Ibuku datar saja. “Iyo ndak apo-apo doh, yang penting kalian semua lai sehat,” ujar Ibuku. Perbincangan kami kemudian berlanjut ke hal lain. Aku banyak bertanya tentang perkembangan kampung halaman serta tentang teman-teman lama yang tinggal di kampung. Di tengah sapa tanya kabar tersebut, terkadang terselip ‘mimpi’ tentang usaha keluarga yang bisa dibangun ke depan. Itu seminggu sebelum lebaran Idul Fitri beberapa tahun lalu. 

Rendang, makanan terenak di dunia, apalagi rendang buatan Ibu.
Empat hari berikutnya, aku kembali menelpon mengabarkan bahwa uang THR sudah dikirimkan. “Alah masak kue apo Ma? Masak randang Nda?” tanyaku beruntun karena biasanya pada hari lebaran, orang Minang akan membuat rendang dan lemang sebagai jamuan untuk tamu. Ini jamuan yang wajib ada, selain menu dan kue lain.
 “Ndak, Ama ndak mamasak randang doh, kalian ndak ado nan pulang, sia nan ka mamakan,” kata Ibuku. Jawaban itu membuatku terhenyak. Aku tahu, Ibu pasti paham kondisi kami, tapi ternyata kerinduan orang tua itu tetap tak bisa terbendung. Dadaku terasa sesak karena aku tahu itu bukan jawaban yang sesungguhnya.

 
Bukan kah rendang itu bisa disajikan untuk tamu dan saudara-saudara yang berkunjung di hari lebaran?  Dan pastinya bukan karena tidak ada uang, kalau cuma untuk membeli 2 kilogram daging membuat rendang, masih adalah. Jawaban ibuku merupakan ekspresi kekecewaannya karena dua anaknya yang dirantau tidak bisa pulang tahun itu.
Aku jadi teringat lebaran tahun sebelumnya, saat aku bersama keluarga kecilku bisa mudik ke kampung halaman.  Sehari sebelum mudik, kami memberi kabar akan berangkat hari itu. Suara Ibu terdengar  riang.  "Hari apo pulang? Ama alah masak randang dagiang untuk kalian," ujar Ibuku dari seberang telepon. Itu menyadarkanku, bahwa masakan rendang bukan sekedar masakah khas lebaran bagi Ibuku, tapi rendang menjadi ungkapan kerinduan akan kepulangan anak-anak dan cucu-cucunya.

Berkumpul pada hari raya Idul Fitri 1438 Hijriyah, 25 Juni 2017.
 Pantas saja, tidak ada yang mampu menandingi cita rasa rendang buatan Ibu. Rendang yang dimasak penuh cinta dan rindu. Sekarang, kalau melihat rendang, aku selalu ingin pulang. Semangat mencicipi rendang buatan ibu juga adalah semangat untuk meraih kesuksesan di negeri rantau.  Setiap tahun, kisah ini melecutku untuk dapat menuntaskan kerinduan kedua orang tuaku.

(Rinda Mulyani)

Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.


EmoticonEmoticon