Tuesday, 5 September 2017

Pengabdian Sang Calon Bidan

Gadis muda berjilbab itu mendekati salah satu penghuni Rumah Singgah Komunitas Peduli Lampung di  Jalan Sam Ratulangi Nomor 64, Penengahan, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung. Tanpa sungkan, dia duduk di depan bayi penderita hidrosepalus, M Kahfi yang masih berusia 9 bulan mengompres kening dan ketiak Kahfi. Sri Rahayu nama gadis muda tersebut. Dia adalah calon bidan yang sudah dua tahun ini bergabung menjadi sukarelawan Komunitas Peduli Generasi Lampung.

“Ini tubuh Kahfi sudah agak mendingan, sudah tidak terlalu panas, terus dikompres ya Bu, obatnya jangan lupa dikasih sesuai jadwal yang dikasih tahu dokter,” ujar Sri Rahayu kepada orangtua pasien hidrosepalus, Rinjani, Selasa (25/8/2017). Sri Rahayu yang kini masih menempuh studi akhir di salah satu pendidikan kebidanan di Bandar Lampung itu juga mendatangi dua pasien lain yang menginap di rumah singgah. Ada pasien gagal ginjal, Suyanto asal Lampung Utara, dan pasien Stevens-Johnson Syndrome (SJS) dengan seluruh tubuh melepuh seperti luka bakar.

Sukarelawan Komunitas Peduli Generasi Lampung, Sri Rahayu.
Sri Rahayu mengatakan, Rumah Singgah ini didirikan oleh seorang pengusaha yang peduli dengan kondisi masyarakat miskin di Lampung. Menurutnya, walaupun masyarakat miskin sudah tercover oleh BPJS Kesehatan, tapi tetap saja mereka kesulitan untuk memenuhi biaya hidup dan biaya transportasi selama berobat ke Rumah Sakit di Ibukota Provinsi.
“Jadi yang ditampung di Rumah Singgah ini khusus pasien BPJS Kesehatan kelas III yang tinggal di luar Bandar Lampung, seperti dari Lampung Utara, Lampung Selatan, dan Tanggamus,” ujarnya. Rumah singgah ini juga sering didatangi pasien miskin yang belum tercover BPJS Kesehatan, dan para relawan mengarahkan keluarga pasien untuk mengurus BPJS Kesehatan, sedangkan pasien akan didampingi untuk berobat mulai dari puskesmas atau fasilitas primer hingga rujukan ke rumah sakit tipe C, B dan A. Rumah singgah ini tidak hanya ada di Bandar Lampung, tapi juga sudah memiliki cabang di Jakarta. “Jadi kalau ada yang dirujuk ke rumah sakit tipe A di Jakarta, bisa langsung ditampung di rumah singgah Komunitas Peduli Generasi Lampung cabang Jakarta,” tuturnya.

Berharap Semakin Banyak Dermawan
Rumah singgah di Bandar Lampung ini berupa bangunan dua lantai dengan tiga kamar tidur untuk pasien. Para sukarelawan rumah singgah tersebut sebagian besar merupakan mahasiswa bidang kesehatan yang ada di Provinsi Lampung. Disini, mereka belajar mengabdi berupaya memberi arti.
Di rumah singgah ini, pasien menginap gratis, pasien hanya membayar Rp5.000 per hari untuk kebutuhan lauk dan sayur pasien tersebut. Sedangkan beras disediakan oleh rumah singgah. Siang itu, beberapa keluarga pasien sedang menumis sayur dan menggoreng tempe di dapur rumah singgah tersebut. Di halaman belakang dapur juga terdapat tanaman sayur hidroponik yang dapat dipetik dan diolah oleh pasien.
Sambil berjalan menunjukkan suasana dapur, Sri Rahayu menjelaskan sebagai besar pasien yang ditampung di rumah singgah memiliki penyakit berat, seperti jantung, kanker, hidrosepalus, dan gagal ginjal. Dia mengaku, rumah singgah ini kerap terpaksa menolak pasien miskin karena sudah penuh. Dia berharap, semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk melakukan hal yang sama dengan membangun rumah singgah bagi pasien miskin.
“Karena biaya hidup dan transpotasi bolak-balik berobat itu cukup besar, sampai jutaan, kasihan pasien-pasien miskin yang terkadang harus berutang untuk memenuhi biaya hidup selama berobat,” ujarnya. Padahal, lanjutnya, penyakit yang didera membutuhkan terapi pengobatan yang lama bahkan ada yang harus menjalani terapi seumur hidup. “Ya, semoga pemerintah daerah mau memenuhi semua fasilitas yang dibutuhkan masyarakat, dan semakin banyak para dermawan yang tergerak membantu pasien miskin, minimal yang ada di lingkungan sekitar mereka,” lirih suara Sri Rahayu seperti selarik doa.

(Rinda Mulyani)

Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.


EmoticonEmoticon