Thursday, 14 September 2017

PCC Dicurigai Mengandung Campuran Flakka?

Pengakuan salah satu korban pil PCC di Kendari, Sulawesi Tenggara yang sudah sadarkan diri, cukup mengejutkan. Dia mengatakan sudah pernah mengonsumsi pil PCC, tapi efeknya berbeda dengan pil PCC yang dia minum beberapa hari lalu. “Hanya dua butir saja aku minum langsung enggak sadar, sesudah sadar tubuh aku luka-luka, aku enggak tau kenapa dapat begini,” kata Aris seperti dikutip dari news.okezone.com.

     Karena curiga dengan kandungan pil PCC tersebut, Aris mendatangi Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari memberikan pil PCC yang telah membuatnya hilang kesadaran.  Pihak BNN mengaku masih bekerjasama dengan BPOM untuk memeriksa kandungan pil PCC yang menelan korban hingga puluhan orang tersebut.
     Ahli kimia farmasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Pol Drs Mufti Djusnir mengakui efek yang ditimbulkan PCC dengan Flakka, jenis narkoba baru yang memiliki efek ‘zombie’ tersebut seharusnya berbeda. "Untuk menuju ke kasus itu, harus ada hasil uji laboratorium," katanya.

Ini bentuk Pil PCC dan kristal Flakka.

Lalu, apa beda PCC dan Flakka?

     Obat PCC merupakan sebuah pil berwarna putih dengan merek dagang somadril compound. Pil ini berfungsi mengatasi nyeri pada pinggang atau kejang otot dan harus dikonsumsi sesuai resep dokter. Pemakaian overdosis pil PCC dapat menyebabkan kerusakan hati, pencernaan, pendarahan hamil, ruam-ruam kulit seperti stephen johnson, dan penurunan kesadaran karena ada zat pelemas otot. Efek mengantuk serta halusinasi juga bisa terjadi saat mengonsumsi dalam jumlah berlebihan. Efek paling berbahaya pada penyalahgunaan obat-obatan ini adalah kerusakan dan kecacatan syaraf. Obat ini menghambat kerja otak, bisa menghilangkan kesadaran hingga menyebabkan kematian.
     Sedangkan Flakka berbentuk kristal, memiliki zat aktif berupa fentanyl derifat. Zat ini memiliki potensi 10.000 kali lebih kuat dibanding morfin. Mengandung senyawa MDPV (Methylenedioxypyrovalerone). Dikutip dari news.detik.com, Ketua Umum DPP Granat (Gerakan Nasional Anti Narkotika) Henry Yosodiningrat menjelaskan Flakka memiliki potensi 100 kali lebih kuat daripada heroin. Flakka digolongkan jenis narkoba baru yang sangat berbahaya.
     Senyawa kimia berbahaya pada Flakka menyebabkan penggunanya berada pada fase ilusi akut. Menyebabkan efek paranoid sehingga penggunanya mengamuk bahkan tidak sadar sedang melukai diri sendiri. Kandungan obat Flakka ini merangsang bagian otak yang mengatur hormon dopamin, serotonin dan mood.  

     Obat sintetis ini diproduksi pada 2012. Kemudian, penggunaannya dilarang karena memiliki efek yang sangat berbahaya. Senyawa pada Flakka meninggalkan efek yang lama dan dapat terjadi permanen pada otak sehingga menghancurkan fungsi otak.
     Nah, pertanyaannya apakah pil PCC bisa memiliki efek yang sama dengan nakroba Flakka? Apakah efek itu diperoleh karena PCC diminum menggunakan campuran obat lain dengan kandungan yang sama sehingga terjadi overdosis? Anehnya, kenapa obat PCC itu disebarkan kepada anak-anak dan remaja dan memiliki efek yang sangat mirip dengan Flakka.
     Apapun itu, pemerintah dan aparat harus waspada dan meneliti dengan akurat pada uji laboratorium kandungan pil PCC yang telah menelan 60 lebih korban di Kendari, Sulawesi Utara. Jangan sampai, para pengedar mengelabui aparat memasukkan narkoba Flakka dalam bentuk kemasan pil PCC.

(RINDA MULYANI)

Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.


EmoticonEmoticon