Tuesday, 19 September 2017

Menggali Makna dari Cah Gareng

     Wajah tirus Wijiyanto semakin pucat. Matanya yang menatap penuh perhatian kepada dokter yang duduk di depannya, tiba-tiba layu. Pemuda kurus itu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Memilin-milin jemarinya. Tulangnya seakan remuk, dia benar-benar tidak berdaya menghadapi kenyataan vonis yang baru saja dilontarkan sang dokter. Dan, yang membuatnya semakin luluh lantak adalah vonis positif mengidap HIV itu diungkapkan sang dokter saat dia berdua dengan istrinya.

Wijiyanto alias Cah Gareng.
     Wijiyanto tidak sanggup mengangkat kepalanya untuk menatap pendamping hidupnya yang sudah memberinya satu anak. Sekuat tenaga, dia berusaha menenangkan batinnya dan mencoba menghadapi kenyataan pahit tersebut.  Sekilas dia menangkap bayangan wajah istrinya yang terperangah, menutup mulut dan wajahnya menggunakan kedua telapak tangan.  Akhirnya, mereka berdua keluar dari ruangan dokter dalam diam.
     “Hari itu juga, setelah oknum dokter itu mengungkapkan vonis positif HIV di depan saya dan istri. Istri saya  langsung meminta cerai dari saya,” lirih suara Wijianto yang akrab disapa Cah Gareng mengilas masa lalunya kepada para awak media di Bandar Lampung, Jumat (8/9).
     Ketika itu penanggalan kalender menunjuk tahun 2011. Takdir hidup melemparnya kepada kesepian yang dalam. Gareng harus dirawat selama sebulan karena selain positif HIV, saat itu kondisinya sudah mencapai fase AIDS dengan penyakit penyerta TB Paru. Gareng meringkuk di kasur rumah sakit yang dingin, sendirian. Istrinya menolak untuk mengurusnya. Sementara, pemuda kelahiran Nganjuk, Jawa Timur ini juga memutuskan untuk tidak memberitahukan kondisinya kepada orangtuanya yang tinggal di Jawa Timur. “Saya tidak mau menyusahkan dan menambah beban orang tua saya,” tutur Gareng yang akhirnya mampu melalui masa tersulit dalam hidupnya.
     Gareng sempat menyimpan kemarahan atas tindakan oknum dokter yang membuka statusnya di depan dirinya dan istri, tanpa melalui konseling.  “Secara etika, itu tidak boleh, seharusnya saya dan istri mengikuti konseling terlebih dahulu agar psikologis dan mental kami siap,” kata Gareng. Namun nasi sudah menjadi bubur, Gareng menerima semua itu dengan lapang dada. Beberapa waktu kemudian,  Gareng bertemu dengan teman-teman senasib yang juga ODHA di Yayasan Pelita Ilmu, Jakarta. Disanalah Gareng mendapatkan penguatan psikologis. Gareng pun mulai memaknai takdirnya.

Terlibat Narkoba
     Gareng mengakui masa mudanya yang terlibat dunia hitam. Dia mulai menggunakan narkoba sejak 2002. Awalnya Gareng menggunakan narkoba jenis hisap, lama kelamaan efek hisap tidak mempan lagi membuatnya ‘fly’ dan  mendorongnya untuk menggunakan narkoba suntik. Pemakaian barang-barang haram ini dia lakukan bersama teman-temannya hingga 2005. Tiga tahun terpuruk di dunia narkotika, Gareng memutuskan untuk berhenti. Dia kemudian menikah dan memiliki seorang anak laki-laki.
     Pada 2009, Gareng bekerja sebagai security di sebuah mall di Jakarta. Tanpa dia sadari, semakin hari kondisi tubuhnya semakin lemah. Akhirnya Gareng benar-benar drop, badannya demam tinggi dan batuk tiada henti. Gareng divonis menderita TB Paru. Dia kemudian harus menjalani terapi TB Paru dengan mengonsumsi obat-obatan TB secara rutin. Namun, bukannya membaik,  kondisi kesehatan Gareng justru semakin menurun. Badannya semakin kurus, nafsu makan berkurang, dan penyakit yang dia alami tidak kunjung sembuh.
     “Saya juga mengalami sariawan di mulut yang tidak sembuh-sembuh, bahkan ada semacam luka di tenggorokan yang membuat saya tidak bisa menelan, hampir satu minggu saya tidak bisa makan. Karena kondisi yang semakin memburuk akhirnya saya dirawat,” ujar Gareng. Melihat kondisi Gareng yang semakin ‘drop’ , dokter mulai curiga ada dindikasi HIV, maka dia disarankan untuk tes HIV, dan hasilnya positif.

Bangkit dan Berkarya
     Diskriminasi pertama yang dialami Gareng sebagai pengidap HIV/AIDS waktu itu justru dari orang terdekat, yaitu  istrinya. Hari itu dia divonis HIV, dan hari itu juga istrinya meminta cerai darinya. Saat Gareng membutuhkan uluran tangan orang-orang yang dia cintai untuk merangkul dan memberinya semangat untuk bertahan hidup, tapi saat itu pula dia menerima kenyataan dicampakkan sendirian.  Tidak ada yang menemaninya saat jatuh, tidak ada yang merawatnya saat sakit, hanya perawat-perawat berbaju putih yang setiap hari menyapa dan mengantarkan obat untuknya.
     Gareng mampu bangkit setelah berkumpul dan bertemu dengan teman-teman ODHA di Yayasan Pelita Ilmu. Disana, mereka saling menguatkan dan mengingatkan untuk terus hidup sehat agar bisa bekerja, mandiri, dan bermanfaat bagi orang lain. Pada 2012, Gareng berpikir untuk melakukan tes HIV kepada anaknya, tapi saat berkonsultasi kepada dokter, dia disarankan untuk mengetes mantan istrinya terlebih dahulu sebab jika ibu negatif, maka anak  juga akan negatif karena tidak terjadi interaksi dan kontak yang menyebabkan risiko penularan . “Alhamdulillah mantan istri saya negatif berarti anak saya negatif, jadi tidak perlu di tes. “
     Hasil negatif ,  terutama pada anaknya memberi semangat tersendiri untuk Gareng. Dia memutuskan menerima seluruh masa lalunya dan menjadikannya sebagai pembelajaran, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain. Bagi Gareng, semua orang memiliki masa lalu, tapi setiap orang juga memiliki masa depan.  “Belajar dari masa lalu itu penting, tapi belajar menghadapi masa depan itu yang terpenting,” tutur Gareng.
     Dengan tekad yang kuat dan kesiapan mental yang matang, Gareng memutuskan untuk membuka statusnya kepada seluruh masyarakat, dan pada 7 November 2015, Gareng memulai Ekspedisi Langkah Kaki Jelajah Negeri. Dia menjalankan misi mulia untuk menyosialisasikan pencegahan HIV, dan mengedukasi masyarakat tentang HIV/AIDS agar mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV.  “HIV itu bukan akhir dari hidup kita, hidup kita berakhir manakala semangat kita sudah padam. Saya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa orang yang terinfeksi HIV juga bisa hidup sehat, mandiri, berkarya dan berprestasi. Jadi, jauhi virusnya, jangan orangnya,” kata Gareng.

Jalan Kaki Keliling 33 Provinsi
     Tekad Gareng untuk berjalan kaki keliling Indonesia mengampanyekan pencegahan penularan HIV mendapat dukungan dari banyak pihak. Gareng memilih tanggal 7 November sebagai awal ekspedisi karena hari tersebut merupakan hari spesial baginya. “Tanggal 7 November itu hari kelahiran saya,” katanya sambil tersenyum. Gareng berjalan kaki dengan membopong ransel di punggungnya. Dia menyematkan satu bendera merah putih kecil di dekat ransel sebagai simbol ekpedisi jelajah negeri yang dia lakukan. 
     Pemuda usia 32 tahun itu memulai langkahnya dari Jakarta menuju Jawa Barat, dilanjutkan ke Jawa Tengah, Yogyakarta,  Jawa Timur, Bali, lalu berputar ke Papua Nugini, Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan baru memasuki Sumatera. Gareng tiba di Bandar Lampung pada Rabu (5/9).  “Saya masuk ke Bandar Lampung dari Bangka Belitung. Untuk Sumatera, semua provinsi saya kunjungi, kecuali Bangkulu, karena paling pojok, sementara saya harus menyelesaikan ekspedisi ini tepat pada 7 November 2017 di Jakarta,” tuturnya.

Pengalaman Haru Biru
     Selama seminggu di Bandar Lampung, Gareng melakukan banyak kegiatan kampanye dan edukasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat. Gareng berkumpul bersama para awak media yang bergabung dalam Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Lampung, bertemu Gubernur Lampung, menyambangi  teman-teman di komunitas ODHA, didampingi pihak Dinas Kesehatan Provinsi Lampung melakukan talkshow ke Radio SAI 100 FM, di hari terakhir  melakukan diskusi inspiratif dengan ratusan mahasiswa Universitas Malahayati.
     Di setiap provinsi, Gareng berusaha menemui sahabat-sahabat ODHA untuk memberi semangat dan motivasi. Gareng menekankan, ODHA memiliki dua tanggungjawab yaitu sehat untuk diri sendiri karena dengan sehat maka pengidap HIV bisa bekerja dan mandiri. Kedua, tanggung jawab moral untuk tidak menularkan virus HIV kepada siapa pun. “Saya sarankan, bagi sahabat-sahabat saya yang hasilnya negatif, pertahankan bagaimana selamanya negatif, tapi kalau positif ada dua tanggungjawab,  sehat untuk diri sendiri dan tidak menularkan virus kepada orang lain,” tutur Gareng.
     Pemuda berhidung mancung ini juga berbagi pengalaman selama melakukan ekpedisi jalan kaki menjelajahi 33 provinsi.  Dia mengaku salah salah satu pengalaman yang membuatnya terharu adalah saat melakukan ekspedisi di Palembang. Gareng sengaja mengatur strategi bagaimana caranya agar bisa tiba di Palembang tepat saat perayaan 17 Agustus. Dia berjalan dari Banyu Asin membawa bendera besar sendirian. “Alhamdulillah sangat luar biasa respon dari masyarakat Palembang, saya diberi makan, diberi minum, disuruh mampir, bahkan diberi duit oleh polisi dan tentara. Mereka semua tahu status saya (HIV), tapi tidak ada jarak diantara kami,” kata Gareng antusias.
     Namun, lanjutnya, dia juga kerap melihat sikap diskriminatif masyarakat terhadap penderita HIV. Pernah suatu hari, dia diundang menjadi pembicara pada pertemuan tentang pencegahan HIV/AIDS. Sebelum Gareng tampil, seorang bapak menyarankan untuk mengusir dan mengkarantina penderita HIV. Ketika tiba waktunya Gareng untuk menyampaikan sosialisasi tentang HIV, dia maju dan menyalami bapak tersebut,  lalu membuka statusnya. “Kalau HIV bisa menular dengan salaman, maka bapak sudah kena, silahkan usir saya. Disitu akhirnya masyarakat mengerti bahwa penderita HIV juga bisa hidup sehat dan bermanfaat,” katanya.
     Selesai di Bandar Lampung, pada Rabu (12/9), Gareng mulai berjalan kaki menuju Kalianda, Lampung Selatan dari Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Dia dilepas oleh pihak dinas, sahabat ODHA, dan rekan-rekan wartawan. Tubuh Gareng boleh lelah berjalan, tapi semangat Gareng tidak akan pernah pudar untuk terus menggelorakan pencegahan HIV di tengah masyarakat. Bahkan, Gareng telah meninggalkan jejak tapaknya di setiap provinsi agar masyarakat ingat bahwa ODHA juga bisa berprestasi dan berbuat untuk kebaikan negeri!


(RINDA MULYANI)

Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.

2 komentar

Makasih Tri Jarwo, kisah hidup mas Gareng yang menggugah...


EmoticonEmoticon