Monday, 11 September 2017

Begini Cara Mencegah Stuting Pada Anak

     Kementrian Kesehatan mencatat sekitar 37,2% atau 9 juta anak di Indonesia mengalami stuting atau gagal tumbuh  sehingga tinggi anak dibawah standar. Dokter Marina Danajanti , MKM dari Kementrian Kesehatan mengatakan stuting  merupakan gagal tumbuh pada anak yang menyebabkan tinggi anak dibawah standar atau cebol.

Dokter Marina Danajanti, MKM menyampaikan materi tentang penyebab stuting pada anak.
      “Stuting juga berdampak pada perkembangan kognitif anak, otak tidak berkembang optimal sehingga kognitif anak rendah atau bodoh. Inilah bahayanya stuting,” ujar Marina saat menyampaikan materi tentang Peran Pemerintah Dalam Menurunkan Prevelansi Stuting pada kegiatan Flash Blogging di Hotel Novotel, Bandar  Lampung, Rabu (12/9/2017). Kegiatan Temu Blogger yang digagas Kementrian Kominfo ini dihadiri Direktur Kemitraan Komunikasi Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo Dedet Surya Nandika, Kepala Seksi Pengelola Opini dan Aspirasi Publik Kominfo Lampung Yulia Siria, dan 50 blogger Lampung.
     Marina  menjelaskan, stuting pada anak dipengaruhi oleh 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak yaitu 270 hari pertama dalam kandungan ditambah 2  tahun kehidupan anak setelah dilahirkan. “Ini menjadi masa emas dan kritis pertumbuhan anak. Jika janin dan bayi mendapatkan nutrisi sempurna, maka akan tumbuh sehat dengan kualitas SDM yang baik,” ujar Marina.
     Namun, lanjutnya, jika di masa itu tidak dilalui dengan baik, maka anak akan beresiko stunting. Dia menjelaskan, beberapa hal yang menyebabkan anak tumbuh stunting yaitu kehamilan kurang gizi, ibu kurus,  atau janin terkena infeksi. “Bagaimana cara mencegah masalah stuting ini? Ibu-ibu harus rajin ke posyandu, pantau perkembangan berat badan anak. Jika ditemukan penurunan berat badan, maka harus dilakukan intervensi melalui suplemen atau makanan penambahan gizi. Di posyandu itu, kuncinya di meja 5, apa di meja 5? Edukasi. Namun, justru ini yang jarang dilakukan di lapangan, edukasi kesehatan kepada para ibu sangat penting,” tuturnya.
     Selain edukasi,  peran masyarakat juga sangat penting untuk saling mengingatkan tentang gizi anak. “Jadi kalau kita melihat ada anak yang lebih pendek dari umumnya, baik  di posyandu, sekolah, pengajian, atau dimana pun, ingatkan keluarganya bahwa ada masalah dengan anaknya agar segera dikonsultasikan ke dokter. Apakah kita berani? Karena ini merupakan tanggungjawab kita bersama, sampaikan dengan cara yang baik kepada orangtuanya,” kata Marina.
     Dia mengimbau ibu-ibu hamil harus menjaga asupan gizi yang cukup dan seimbang,  melakukan inisisasi ASI dini pada bayi, memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, berikan ASI selama dua tahun, serta berikan makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan dan usia anak. “Ibu hamil anemia, kurus dan kurang gizi masih banyak di Indonesia, dan ini menyebabkan anak lahir dengan berat badan rendah yang beresiko stunting,” tuturnya.


(RINDA MULYANI)

Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.


EmoticonEmoticon