Thursday, 31 August 2017

Tradisi Malamang yang Mulai Hilang

Tags

DUDUK di pematang sawah di kampung halamanku, Pasaman, Sumatera Barat, satu hari menjelang lebaran Idul Fitri, 24 Juni 2017,  mengembalikan ingatanku pada kenangan tiga puluh tahun silam. Ketika itu usiaku 7 tahun, aku ikut sibuk menyorongkan kayu-kayu yang mulai habis terbakar mendekati kumpulan bara api agar puluhan lamang yang bersandar di tiang besi matang sempurna. Percik bunga api kerap mengenai tangan dan wajahku, terasa sensasi panas, tapi segera hilang saat aku tepis dengan tangan.


Malamang.
Sementara, para ibu yang ikut malamang menjelang Idul Fitri di masa itu sibuk menyanduk santan dan memasukkan ke dalam buluh-buluh lamang yang mulai kering. Sebagian besar ibu-ibu ini berkain sarung dan menggunakan songkok kepala. Ada juga yang bertugas memutar-mutar lamang agar tidak matang sebelah atau malah gosong separuh.

Baca juga : Resep Membuat Lemang Ketan Putih

Pernah aku nekad mencoba memegang buluh lemang yang sedang dibakar, dan segera kutarik tanganku karena panas yang amat sangat. Pantas saja, sebelum memegang buluh lamang menggunakan kain, ibu tersebut menyelupkan kain terlebih dulu ke air kemudian meremasnya. Kain basah inilah yang digunakan untuk memegang dan membalik-balik lamang.
Ahhh, itu adalah pertama dan satu-satunya pengalamanku tentang malamang. Selebihnya, aku lebih banyak menikmati memakan lamang pada setiap acara pernikahan, Maulid Nabi, Lebaran Idul Fitri, atau Idul Adha. Namun, ingatan itu juga yang memberi kesan mendalam kepada diriku hingga saat ini. Ada kerinduan untuk merasakan kebersamaan dan suasana malamang.

Memadukan bahan-bahan lamang.
 Kerinduan itu aku tuntaskan dengan mengajak keluarga adikku, dan kakakku untuk malamang untuk sajian pada hari raya Idul Fitri 1438 Hijriyah pada 25 Juni 2017. Maklum, aku hanya bisa pulang kampung tiga tahun sekali merayakan lebaran bersama keluarga besar di Pasaman karena aku bersama keluarga kecilku tinggal di Bandar Lampung, Lampung. Ada keinginan kuat di hatiku untuk memberikan pengalaman batin yang sama kepada anak dan keponakanku. 
Aku ajak mereka ikut serta dalam proses menyiapkan bahan-bahan lemang seperti ketan putih, santan kental, garam, bawang putih, dan pisang. Sedangkan buluh bambu dan daun pisang disediakan oleh mertua adikku. Hehehe, sejatinya aku juga ingin belajar malamang dengan tetua yang telah berpengalaman memasak menu penganan khas masyarakat minang kabau ini. 

Memasukkan ketan putih ke dalam buluh lemang.

Syekh Burhanuddin
Selama malamang itu, aku bertanya banyak kepada ibu mertua adikku yang akrab aku sapa Amak. Menurut dia, saat ini sudah sedikit masyarakat yang melakukan tradisi malamang karena lamang sudah banyak dijual di pasaran. “Ma amuah ibuk-ibuk kini ko malamang surang Nda. Latiah, angek, lamo mamasak nyo mah. Kalau ibuk-ibuk kini nyo pai ka pasa, tu tingga di bali nyo se lai lamang, banyak urang manjua lamang di pasa mah (mana mau ibu-ibu zaman sekarang malamang Nda. Lelah, panas, lama memasaknya. Kalau ibu-ibu zaman sekarang tinggal pergi ke pasar,lalu dibelinya lemang, banyak orang menjual lamang di pasar),” katanya.
Amak juga mengisahkan  bahwa kegiatan malamang ini dulunya dihidupkan oleh Syekh Burhanuddin yang menyebarkan ajaran Islam di ranah minang. Saat itu, Syekh Burhanuddin bertamu dan bersilaturahmi ke rumah-rumah penduduk, dan dia disambut dengan jamuan makanan masyarakat kala itu. 

Menyiapkan buluh lemang.
“Tapi, Syekh Burhanuddin ko ragu jo makanan nan disajian masyarakat waktu itu, ntah kok lai halal atau indak, soale kan waktu itu banyak nan alun paham agamo lai (Tapi, Syekh Burhanuddin ragu pada makanan yang disajikan masyarakat waktu itu, apakah halal atau tidak karena saat itu belum banyak masyarakat yang paham dengan ajaran agama Islam),” tutur Amak menjelaskan sejarah malamang tersebut.
Untuk itu, lanjutnya, Syekh Burhanuddin menyarankan kepada penduduk untuk mencari bambu dan mengalasi bagian dalamnya dengan daun pisang muda. Setelah itu, buluh bambu tersebut diisi dengan beras ketan putih dan santan, kemudian di bakar menggunakan arang kayu. 
“Nah, sajak itulah urang minang rutin malang untuk disajikan dalam pengajian basamo Syekh Burhanuddin. Lamo-lamo, lamang ko manjadi makanan simbol silaturahmi urang minang, jadi satiok acara adat, baralek, atau hari rayo,ibuk-ibuk zaman dulu pasti malamang basamo,” kata Amak sambil membolak-balik lamang yang mulai matang.

Bemain di sawah dan membuat puput dari batang padi.
Alhamdulillah, kerinduanku dengan tradisi malamang lepas sudah. Selama malamang,aku juga mengajak anak dan keponakanku membuat puput dari batang padi. Sore harinya, tiga belas lemang tersedia di depan kami, lima lemang putih dan delapan lemang pisang. Ini menjadi salah satu menu untuk menyambut tamu di hari lebaran.


(RINDA MULYANI)

Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.


EmoticonEmoticon