Thursday, 17 August 2017

Suoh, Surga yang Tersembunyi


KAKI saya seakan berpijak diatas permadani hijau nan lebar. Padang ilalang luas ini menjadi pesona lain dari bentangan biru danau di depan saya. Sore itu riak air danau  begitu tenang, angin tak terlalu kencang, saya pun terus menuruni tebing menuju bibir Danau Lebar di Suoh, Lampung Barat.

Berdiri sejenak di pinggiran danau yang dulu menjadi lokasi favorit nelayan di daerah ini, pikiran saya melayang ke tragedi gempa Liwa delapan belas tahun silam. Gempa besar itu meluluhlantakkan 75.000 rumah milik warga dan merengut 196 jiwa. Ketika itu petaka itu ditangisi dan diingat sebagai tragedi bencana alam yang tragis. Namun, tragedi ini juga yang melahirkan anugerah kesuburan dan keindahan tak terkira. Pesona yang tidak dimiliki daerah lain.

Gempa itu menciptakan sumber panas bumi Suoh yang diduga memiliki potensi energi listrik sebesar 500 megawatt. Bencana di tahun 1994 itu juga telah melahirkan tiga danau eksotis dari rahim bumi: Danau Lebar, Danau  Asam, dan Danau Minyak. Kesinilah kami melepas penat dengan menikmati keindahan surga yang tersembunyi.

Suasana padang rumput di depan Danau Lebar, Suoh, Lampung Barat.

Suoh menjadi nama yang fenomenal di Lampung. Untuk mencapai daerah dengan ketinggian 1.200 dpl (dari permukaan laut) di wilayah Lampung Barat ini para adventuring harus menembus kabut, menerabas tanah merah yang diapit perkebunan kopi dan beberapa hutan masih perawan.  Berangkat dini hari Sabtu (10-3-2012), kami nekad menempuh jalur Kotaagung—Suoh. 

Di musim panas, jalur ini cukup baik untuk dilewati dibandingkan jalur Sekicau. Namun, ada dua daerah rawan pemalakan di lintasan jalur ini, yaitu desa Rajabasa dan Gunungdoh, Tanggamus. Memilih meluncur pada pukul 01.00, membebaskan kami dari aksi pemalakan pemuda setempat.

Baca Juga : Diantara Keheningan Bukit Barisan Selatan

Jalan ini memang tidak separah dulu, tetapi tetap menegangkan. Jalan tanah merah dengan tanjakan, turunan, dan tikungan tajam membuat mobil beberapa kali terperosok lumpur basah. Kami sampai di puncak Suoh, Dusun Sukamarga, tepat sekitar pukul 04.30. Perjalanan melelahkan ini akhirnya terbayarkan. Dari badan pegunungan Cibitung ini, panorama Suoh memberi energi positif. Kepulan asap sumber air panas ibarat tungku jarangan besar yang sedang menanak air. Asap tebal tak henti-hentinya membubung tinggi ke udara. 

Salah satu sumber panas bumi di Suoh, Lampung Barat.
Salah satu objek yang luar biasa itu adalah sumber panas bumi di Suoh. Lokasi ini dijaga oleh pemuda kampung. Tempat spektakuler ini ramai dikunjungi pada hari libur dan Lebaran.  Perjalanan dari Desa Sukamarga menuju lokasi panas bumi kami tempuh bersepeda motor. 

Sampai di area persawahan yang pematang yang kecil dan lunak, kami turun dan memarkirkan motor disini. Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki melewati sawah-sawah yang subur dan hijau. Ini masih sekitar 500 meter dari sumber panas bumi, tapi aroma belerang sudah menyebar.

Kaki kami menginjak lahan keras berwarna putih kecoklatan. Area ini mirip lantai yang dikeramik. Ini sebenarnya adalah tanah, batuan dan kayu-kayu yang mengeras akibat dialiri air belerang terus menerus. Beberapa titik di area  ini terdapat lubang-lubang kecil yang mengeluarkan air berasap. Disana dipasang tonggak kayu sebagai pembatas area yang tidak boleh diinjak. “Kalau lubang-lubang kecil seperti ini diinjak akan menyembur air panas, kaki bisa melepuh,” kata Alkodri, pemuda kampung yang sering memandu para pengunjung.

Di lokasi ini ada satu tempat yang menjadi favorit pasangan memadu cinta, yaitu hutan konservasi di belakang sumber air panas. Saat memasuki hutan, di salah satu pohon terdapat papan yang bertuliskan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Banyak bekas manusia di sini, mulai dari ukiran nama di dahan-dahan pohon sampai sampah makanan yang menumpuk.

Lokasi panas bumi ini ternyata tidak hanya di bagian depan saja. Di belakang hutan TNBBS itu juga terdapat kawah dengan air yang menggelegak. Bahkan danau kecil yang ada di samping lokasi itu berasap. “Ini masih luas ke belakang Mbak, di balik hutan sama ada sungai air panas yang bisa digunakan untuk mandi. Saya sering mengantar pengunjung ke sana,” imbuhnya lagi.

Kisah sang penguasa danau

Sebagian besar lokasi panas bumi sudah kami sambangi. Jarum jam menunjukkan pukul 15.00, kami tak ingin menyia-nyiakan waktu. Saat ditawarkan mandi di Danau Lebar kami langsung menyambutnya dengan gembira. Jalan setapak tanah kembali kami susuri.

Kami sampai di sebuah padang ilalang yang hijau. Saat berlari kecil menuruni tebing menuju bibir danau, kami diingatkan warga setempat untuk berhenti sejenak. “Sebentar Mbak, saya lihat dulu, biasanya penguasa danau keluar sore-sore begini,” ujar Bapak berusia 45 tahun itu. 

“Oh, iya Pak ?” jawab saya. Terlintas mitos tentang makhluk gaib penunggu danau.  “Memangnya penguasa danaunya itu apa, Pak?” tanya saya penasaran. “Buaya,” katanya. “Buaya beneran apa jadi-jadian,” kejar saya. “Buaya benaran, Mbak!” kata Pak Emed.

Srrrr, nyali saya menciut, kaki saya mundur selangkah. Apalagi, kata Pak Emed, dia sering melihat buaya-buaya itu berdiam di pinggir danau pada sore hari. Pak Emed mengisahkan dulu Danau Lebar ini menjadi tempat favorit nelayan mencari ikan. Dalam satu hari nelayan bisa menangkap 5 kuintal ikan jenis gabus, nila, betok, udang, dan kepor (sejenis ikan tawas). 

Warga pinggir danau serta para pengunjung juga suka berenang di danau. Namun, semakin ramai warga yang menangguk ikan semakin mengurangi jatah makanan para penguasa danau ini. Akhirnya, buaya-buaya ini berebut makan dengan manusia. Danau  mendadak sepi sejak buaya-buaya di danau bekas rawa ini sering muncul ke permukaan. Apalagi, dua warga sudah menjadi korban. “Pernah ada yang mancing di tengah danau, tiba-tiba menghilang, perahunya ditemukan dalam keadaan terbalik,” kisah Pak Emed.

ini bukan bualan belaka, warga sering menemukan telur buaya di dalam tanah pinggiran danau. Bahkan, beberapa warga mengambil telur itu untuk ditetaskan. “Mau telur buaya, Mbak? Kemarin ada yang menemukan  20 butir di pinggiran danau sebelah sana,” kata Pak Emed. “Hehe, enggak lah, buat apa, Pak?” ujar saya menggoyangkan tangan kanan saya menegaskan penolakan.

Berenang di Danau Asam, Suoh, Lampung Barat.
Setelah mengamati pinggir danau dari kejauhan, kami baru turun menyusul Pak Emed yang sudah duluan memangkas semak-semak membuat jalan. Akhirnya, sampai juga di bibir danau. Ingin sekali rasanya meraup aiarnya dan membasuhkan ke muka. Namun, bayangan buaya seakan melekat, niat itu akhirnya kami urungkan. Keinginan untuk mencebur merasakan segarnya air danau kami tahan sebisanya, daripada salah paham dengan sang penguasa danau, ada baiknya cukup menikmati pemandangan saja.

Hampir setengah jam kami menikmati keindahan danau ini. Dari sini kami bisa melihat rumah-rumah penduduk beberapa desa dengan dua tower menjulang tinggi di perbatasan desa. Setelah itu kami beranjak ke danau Minyak, dan terakhir di Danau Asam. Disini, para pengunjung diperbolehkan mandi dan berenang. 

Tanpa berpikiran panjang, kami langsung menceburkan diri. Tubuh kami terasa segar direndam air danau ini. Danau Asam menjadi ujung perjalanan sore hari. Kami kembali ke rumah warga tempat menginap semalam. Sesampai di rumah, kami disambut dengan menu satai ayam kampung. Hmmm, nikmat! Lelah, lapar, tuntas sudah!  (Rinda Mulyani)




Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.

2 komentar

Indah banget ya Suoh ini, baru tau dan terpesona dengan indahnya layaknya permadani hijau raksasa.


EmoticonEmoticon