Wednesday, 16 August 2017

Seandainya Aku Pengemis

Tags

ADA peristiwa yang agak menggelitik hatiku. Semalam,  16 Agustus 2010, aku bersama suami dan anakku makan bakso di Bakso Soni, Bandar Lampung. Aku yang memaksa suami mampir makan bakso karena sudah tiga hari ngiler pengen makan bakso. Sekitar pukul 21.30, seorang Lelaki berdiri di depan pintu keluarga warung bakso. "Bapak itu ngapain ya Buk, ngendong anak, pengemis kali ya?,"kata suamiku sambil mengarahkan pandangannya ke pintu keluar warung bakso. Aku melirik ke arah luar. Hmmm, pantasan suamiku bertanya-tanya.

Ternyata lelaki itu masih cukup muda, terlihat sehat, pakaiannya lumayan bersih. Dia mengendong anak kecil. Beberapakali saya perhatikan, mulut Lelaki itu tidak pernah bergerak setiap ada orang yang melewatinya. Dengan ragu-ragu, tangannya yang memegang kantong plastik dimajukan. Dan, ditarik lagi dengan cepat ketika tidak ada receh yang terulur masuk ke kantong plastik itu. Alhamdulillah, perutku terasa sangat kenyang makan bakso. Saatnya pulang. Aku membayar bakso dan keluar dari warung itu, menyusul suamiku.


Seorang pengemis sedang meminta-minta di bilangan jalan di Jakarta. (http://ciricara.com)

Suamiku tampak merogoh sakunya dan mengambil uang ribuan.  Ketika melewati Lelaki itu dia memasukkan uang itu ke kantong plastik yang setengah terulur ke depan. Tiba-tiba anak yang tertidur nyenyak digendongan Lelaki itu pipis. Airnya mengalir deras dan membasahi lantai di depan warung bakso. "Tuh anaknya pipis Pak, kasihan," kata suamiku. Tidak ada suara jawaban yang keluar dari mulut lelaki itu. Setelah anak digendongannya selesai pipis, dia segera berlalu dari warung itu.
Aku menunggu suami dekat parkir motor. Saat suamiku akan menghidupkan mesin motor,  kepalanya menoleh ke belakang. "Aku salah nggak ya Buk memberi uang pengemis itu?," ujar suamiku. Weh, aku sempat kaget juga. Hmmm, ternyata suamiku mulai terpengaruh dengan argumentasi para pejabat kota yang sedang sibuk membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Anak Jalanan dan Pengemis.
Di dalam Rapreda itu dijelaskan bahwa bagi siapapun yang memberi uang kepada pengemis akan dikenakan denda Rp3 juta rupiah. Alasan para pejabat kota Bandar Lampung ini terlihat masuk akal. Menurut mereka, kebiasaan masyarakat memberi uang kepada pengemis menyebabkan banyak orang yang menjadi mengemis sebagai pekerjaan (profesi). Selain itu, memberi uang pengemis bisa membuat orang menjadi malas, tidak mau berusaha.
Tak heran, dengan alasan ini DKI Jakarta  mendenda orang yang memberi uang kepada pengemis sebesar Rp20 juta, di Palembang didenda Rp5 juta, begitu juga di Riau. Dan, ternyata pejabat Bandar Lampung seperti latah ingin menerapkan peraturan yang sama. Alasan yang keluar dari mulut suamiku sama persis dengan alasan pada pejabat yang selalu kenyang itu. "Tapi, nanti mereka jadi malas Buk?" kata suamiku. Saat motor melaju pulang ke rumah, kami terus berdiskusi.
"Ah, nggak juga Mas. Kalau memang ingin memberi, beri aja, tidak usah berprasangka macam-macam. Kita tidak tahu kondisi mereka yang sebenarnya. Kasihan, mereka sudah mempertaruhkan harga diri demi sesuap nasi untuk istri dan anak-anak, eh, malah diprasangkai macam-macam,"kataku pada suami. "Iya ya Buk,". Lalu suami diam. Diskusi kami terus mengalir.
Kami tidak menggunakan bahasa Undang-Undang untuk menguatkan hati untuk terus berbagi. Dalam Undang-Undang dijelaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar wajib dipelihara oleh negara. Dalam Islam, manusia diajurkan untuk berbagi lewat sedekah, infak, dan zakat. Tidak ada salahnya orang-orang yang ingin mengkoordinir zakat dan sedekah agar manfaatnya lebih terasa, dalam menciptakan sebuah perubahan. Tapi, juga tidak ada salahnya seseorang bersedekah kepada orang-orang menggetarkan hati mereka kan? Kami berdua merefleksikan kondisi keluarga kami.
Kami boleh bersyukur, pernah mendapatkan pendidikan ke jenjang yang cukup tinggi dan sekarang mendapatkan pekerjaan yang cukup layak untuk kehidupan kami.  Tapi, tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Dan, tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Banyak masyarakat Indonesia yang putus sekolah di tingkat SD dengan berbagai alasan. Sebagian besar karena ketidakmampuan ekonomi.
Diantara mereka yang putus sekolah itu hanya sedikit yang memiliki semangat juang untuk terus belajar dari alam semesta. Segelintir dari mereka  dikaruniai kecerdasan mental dan kecerdasan intelektual. Walau tidak punya kesempatan sekolah, mereka bisa sukses. Tapi, sebagian besar tidak memiliki kemampuan itu, tidak punya keterampilan untuk bertaruh dengan hidup.
Mungkin, orang-orang inilah yang akhirnya menjatuhkan pilihan menjadi peminta-minta. Tentunya pilihan ini juga tidak mudah. Kehilangan harga diri dan rasa malu adalah bayarannya. Demi bertahan hidup, memenuhi perut anak-istri yang keroncongan. Beberapa memang ada yang bisa membangun rumah dan membeli motor untuk usaha yang lebih baik, jadi tukang ojek.
Pertanyaannya? Apakah kita butuh alasan untuk memberi kepada orang-orang kurang beruntung yang melintas di depan kita dan menggetarkan hati kita? Siapa sebenarnya yang bertanggungjawab atas nasib dan kondisi mereka saat ini? Bukankah itu menjadi tanggungjawab kita semua? Ah, seandainya aku pengemis, apa yang aku rasakan ya? Tidak usah ragu untuk saling berbagi!

(RINDA MULYANI)


Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.


EmoticonEmoticon