Wednesday, 30 August 2017

Pindang Kepala Simba RM IKA Mengigit Dilidah

Tags

Seorang pelayan muda berbusana rapi datang membawa pesanan kami. Tangannya memegang erat panci stainless steel lengkap dengan alat pemanasnya. Aroma pindang menyeruak ke hidung kami. Hmmm, benar-benar menggugah selera. Saat diletakkan diatas meja, kami agak suprise, tidak menyangka pindang kepala simba memenuhi panci yang selalu dijaga tetap panas itu.
“Ini menu pesanannya mas, ada yang mau ditambah pesanannya,” tanya sang pelayan Rumah Makan Pindang Ika, di Jalan Hurun, Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Jumat (25/8/2017). “Cukup ini dulu mas,” ujar suamiku karena melihat porsi besar pindang kepala simba yang cukup jika dikonsumsi untuk empat orang dewasa. Sementara, kami hanya bertiga dengan anak kami yang masih kelas 4 SD.

Sajian menu pindang kepala simba di Rumah Makan Pindang Ika, Padang Cermin,Pesawaran.
  Kami pikir, menu pindang ini disajikan tunggal, ternyata si pelayan datang lagi sambil membawa menu pelengkap berupa sayur urap, sambal terung campur ikan asin, dan lalapan, ada kemangi, terung hijau, dan ada petai rebus yang menjadi salah satu lalapan kesukaan suamiku. Mantap! Tidak sabar, kami mulai menyendok nasi dan menyiapkan di piring masing-masing. Tidak perlu berebut mengambil lauk pidang kepala simba, dijamin cukup!

 Baca juga : Tradisi Malamang yang Mulai Hilang 
 
Aku mencicipi satu persatu menu yang disajikan. Dimulai dari pindangnya, wah kuahnya benar-benar segar, tidak hanya bumbunya rempahnya yang kental, tapi irisan nanas yang tebal dan taburan kemangi menjadikan kuah pindang semakin segar. Pedasnya juga menggigit lidah. Daging kepala simbang memiliki kematangan yang pas sehingga kesegaran ikannya masih terasa. “Kuahnya segar ya, Papa baru ngerasain kuah pindang sesegar ini, mantap,”ujar suamiku menyeruput kuah pindang,lalu menyuap nasi yang diselipi petai favoritnya. (Resep Pindang Kepala Simba)
Aku mulai menjajal sayur urap yang tinggal separuh. Ternyata, suamiku juga sangat menyukai sayuran dicampur bumbu kelapa itu. Coba secuil dulu deh. Wah, bumbu kelapanya enak, rempahnya dan pedasnya ‘berani’. Rebusan sayur separuh matang yang dicampur bumbu urap ini melengkapi kenikmatan makan kami sore itu. Saat menjajal sambal terung dan ikan asin kecil yang dibaluri sambal hijau, tanganku tak berhenti untuk mengudapnya. Hahaha, saking enaknya, itu sambal terung dan ikan asin dikudap sampai licin!

Wisata Tak Lengkap Tanpa Kuliner Pindang
Kami mampir di Rumah Makan Pindang Ika yang berlokasi di pinggir jalan ini sepulang dari wisata ke Pulau Tegal. Jika dari Bandar Lampung, rumah makan ini berada disisi sebelah kiri jalan, sebelum Pasar Hanura, Padang Cermin, Pesawaran. Jika diakses menggunakan mobil dari pusat kota Bandar Lampung hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Itu, jika tidak macet. Karena pada hari-hari libur, jalanan menjadi sangat padat dan macet. Maklum, di mulai dari daerah Telukbetung, Bandar Lampung hingga Pesawaran memiliki banyak destinasi wisata pantai.
Santap makan dilengkapi dengan minuman segar, ada air kelapa muda dan aneka juice buah.
 Nah, bagi wisatawan yang menuju Pantai Sari Ringgung, Pantai Clara, Pantai Kelagian, dan pantai-pantai lain hingga ke daerah Piabung pasti melewati Rumah Makan Pindang Ika. Tidak perlu sungkan untuk mampir dan masuk mencicipi menu khas daerah Sang Bumi Ruwa Jurai ini. Harganya terjangkau. Untuk satu porsi menu pindang yang bisa dimakan ramai-ramai itu cukup mengeluarkan kocek Rp100 ribu saja. Kalau makan,tanpa minum kan pasti seret ya, ada kok aneka minuman segar yang dapat dipesan, seperti kelapa muda, anek juice buah, lemon, dan lainnya. 

Baca juga : Suoh,Surga yang Tersembunyi 
   
Suasana di rumah makan ini sangat nyaman. Sepertinya memang didesain untuk santap keluarga. Di tengah pondok-pondok makan terdapat kolam ikan yang jernih, dihiasi bunga teratai putih dan merah. Juga ada ayunan yang bisa menjadi tempat bermain untuk anak-anak atau remaja pacaran. Sore itu, ayunan ini malah dinaiki oleh pasangan usai paruh baya, hehehe sepertinya mereka tengah bernostalgia.
Jika ramai, live musik mulai menghibur konsumen. Sore itu,  lagu-lagu lawas tahun 1980-an mengalun. Perut yang bengah kekeyangan ditambah elusan angin menerpa tubuh mengundang rasa kantuk. Daripada ketiduran di pondokan rumah makan ini, lebih baik kami tuntaskan jelajah kuliner hari ini.

(RINDA MULYANI)




Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.


EmoticonEmoticon