Saturday, 19 August 2017

Menikmati Keindahan Bawah Laut Pulau Tegal

Bersiap menuju spot snorkeling dari pinggir pantai 
Pulau Tegal, Desa Gebang, Pesawaran, Lampung.
“KRIK..krik..,” suara binatang malam masih terdengar diselingi kicau burung menyongsong subuh, Sabtu (29/7/2017). Nyiur kelapa di sepanjang pinggir pantai Pulau Tegal, Pesawaran, melambai lembut seperti kipas besar para dayang. Debur ombak menampar batu karang terdengar jelas, diselingi suara riak yang belari mengejar bibir pantai. 

“Ayo shalat subuh, setelah itu makan, jam 8 kita snorkling ke Batu Putih,” ujar Ketua Sukarelawan Peduli Pendidikan Pulau Tegal (SP3T) Lampung, Uniroh Utami menyapa para traveler Rumah Zakat dan tim yang ikut dalam kegiatan hari itu.


Uniroh sendiri sudah bersiap menggunakan baju kaos dan celana kaos panjang lengkap dengan hijabnya. Dia mengajak salah satu anak didiknya, Riski, untuk menghitung jumlah pelampung dan alat snorkeling yang sudah disewa untuk kebutuhan menikmati keindahan bawah laut Pulau Tegal seharian nanti. 

“Tadi Ibu sewa 30 pelampung dan 30 alat snorkeling, cukup nggak Ki? Kalau udah lengkap semua, naikkin ke perahu ya Ki,” ujar Uniroh kepada Riski yang kerap menjadi asisten pribadinya melayani sukarelawan atau wisatawan yang berkunjung ke Pulau Tegal.

“Iya Bu, siap,” ujar Riski yang langsung membopong beberapa pelampung yang ada di atas Rumah Baca menuju tiga kapal kecil yang tertambat di pinggir pulau. Melihat Riski dan Uniroh mulai berkemas, beberapa pemuda dari Rumah Zakat, termasuk saya yang ikut rombongan wartawan membantu membawa peralatan snorkeling tersebut. 

Pada liputan kali ini, saya mengajak suami dan anak, tujuannya agar anak saya ikut belajar tentang kehidupan anak-anak di Pulau. Nah, wisata melihat keindahan bawah laut Pulau Tegal ini adalah bonus setelah seharian melihat proses pendidikan dan rehabilitasi Rumah Belajar di Pulau Tegal yang dilakukan tim SP3T , Rumah Zakat , Lazdai, dan para Marinir Yon 9 Brigif 3 Piabung.
 

Selayang Pandang Pulau Tegal
Anak-anak Pulau Tegal mengikuti pengenalan profesi 
oleh mahasiswa peserta Rona Nusantara, Rumah Zakat 
bekerjasama dengan SP3T Lampung.
Secara administratif, Pulau tegal masuk dalam Desa Gebang, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Pulau seluas 98 Hektare ini dihuni oleh 35 kepala keluarga. Rumah-rumah tersebut tersebar secara berkelompok di beberapa sisi bagian pulau. Di lokasi Rumah Belajar Pulau Tegal tersebut hanya ada sekitar 10 rumah penduduk, selanjutnya sekitar 500 meter menyeberangi hutan dan semak-semak baru ditemukan lagi sekitar delapa rumah penduduk. 

“Ya 35 kepala keluarga itu tidak menumpuk di satu tempat, tapi mencar-mencar. Malah rumah Ibu RT nya harus naik perahu dulu ke sisi Pulau itu,” ujar Uniroh sambil menunjuk ke arah Barat pulau.

Anak-anak di Pulau Tegal tidak bisa mengenyam pendidikan dengan layak.  Ada sekitar 25 anak usia SD hingga SMA yang tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah formal. Sebagian dari anak-anak Pulau ini harus keluar pulau untuk masuk sekolah formal. Namun, itu tidak bertahan lama, sebagian besar terpaksa putus di tengah jalan karena ketiadaan biaya dan ikut bekerja mencari ikan bersama orangtua mereka.

Baca juga : Suoh, Surga yang Tersembunyi

Kondisi inilah yang mengunggah Uniroh yang juga Kepala SMPN 25 Pesawaran mengajak guru dan rekan kerjanya untuk menjadi sukarelawan mengajar anak-anak di Pulau Tegal. Maka pada September 2016 didirikanlah Sukarelawan Peduli Pendidikan Pulau Tegal (SP3T) Lampung dengan misi anak-anak Pulau Tegal dapat menikmati pendidikan formal.

Jika awal-awal pendirian, sekitar 25 anak usia sekolah di Pulau Tegal hanya mendapatkan pendidikan seadanya, maka kini sudah berdiri Rumah Belajar dan tim guru relawan yang mengajar anak-anak sesuai kurikulum dan jenjang sekolah formal. Rumah Belajar ini berafiliasi dengan sekolah formal yang ada di Pesawaran.

Menurut Uniroh, di Pulau Tegal terdapat tiga kelompok belajar yaitu kelas rendah bagi anak-anak usia 1—III SD, kelas tinggi bagi anak-anak usia kelas IV—VI SD, dan SMP bagi anak-anak usia SMP. Setiap hari ada tiga guru yang mengajar ke pulau, pembelajaran berlagsung mulai Senin—Jumat. (berita lampung)
   
Bertemu Nemo 
Snorkeling di spot Batu Putih menyaksikan ikan badut (nemo)
 yang hidup di anemon karang laut.
Proses rehabilitasi Rumah Belajar dan MCK bagi siswa Pulau Tegal dilaksanakan selama tiga hari, Jumat—Minggu (28—30/7/2017). Di akhir kegiatan, bonus...tralala, saatnya tim menjelajahi bawah laut Pulau Tegal. 

Bu Uniroh yang sudah hapal spot-spot snorkeling, kami dan para mahasiswa yang bergabung dalam kegiatan Rona Nusantara Rumah Zakat mempersiapkan diri di atas perahu. Aku bersama suami dan anakku, Aura Annisa Anwar Sani satu perahu dengan Bu Uniroh, dan Kapten Rizal Marinir Piabung, serta beberapa anak Pulau. 

Spot pertama yang kami sambangi adalah Batu Putih. Di lokasi tersebut terdapat batu karang putih besar. Anak Pulau yang sudah terbiasa dengan air laut langsung melompat dengan gaya salto. Kami memilih turun melalui tangga kapal dan memulai petualangan menonton keindahan bawah laut Pulau Tegal. 

karang di spot ini sudah mati, tapi kami terus bergerak ke depan dan akhirnya bertemu dengan karang-karang yang masih hidup. “Mama ada bintang laut biru!” teriak anakku yang baru pertamakali melakukan snorkeling.


Kami juga bertemu dengan anemon, rumahnya di ikan badut (nemo), dan satu ekor nemo yang tinggal di sela-sela enemon tersebut. “Ada nemo, ada nemo, ayo sini,” teriak Aura memberi tahu peserta yang lain. Karang warna-warni dan lalu lintas gerombolan ikan karang seakan tidak terusik dengan kehadiran kami. Tidak terasa, sudah dua jam kami menikmati spot di Batu Putih, kelelahan mulai terasa karena tekanan pelambung pada bagian ketiak dan dada.

Enaknya, di lokasi ini, peserta snorkeling bisa menepi dan duduk di batu karang putih yang cukup banyak di pinggir pantai. Berbeda dengan anak-anak Pulau, tubuh mereka seakan tidak mengenal lelah. Kulit yang hitam terkena air garam dan sinar matahari pun tidak membuat mereka menyerah untuk istirahat sejenak. Dari atas batu karang putih yang cukup besar dan tinggi, mereka melompat dan salto menceburkan diri ke laut.

Si Mungil Terumbu Karang 

Sekitar pukul 11.30, kami beranjak mencari spot lain. Bu Uniroh seperti memiliki sebuah surprise yang ingin ditunjukkan kepada kami. Sekitar 10 menit perjalanan , perahu menambah di pasir putih yang bersih. Bu Uniroh bergegas turun dan langsung menuju suatu lokasi di daratan. Kami menyusul di belakang. 

“Aduhh, kok gini ya, kok bunganya udah nggak ada? “ ujar Uniroh dengan kening berkerut. Menurutnya, sekitar dua bulan lalu, di lokasi tersebut menjadi habitat bunga berwarna kuning mirip bunga matahari. “Padahal bunga ini belum pernah saya temui lo dimana pun, seluruh lokasi ini penuh dengan bunga-bunga kuning itu, seperti di taman bunga,” tuturnya memelas. Bu Uniroh meminta maaf karena gagal menunjukkan keindahan tersembunyi di Pulau tersebut.

Satu perahu dengan Ketua SP3T Lampung, Bu Uniroh Utami (jilbab merah).
 Akhirnya, penjelajahan kami berakhir di Spot Snorkeling Ringgung yang berada di tengah laut antara Pantai Sari Ringgung dan Pulau Tegal. Spot ini lebih indah dibandingkan Batu Putih. Karang-karang hidup masih banyak. Kami juga menemukan, beberapa karang kecil yang masih hijau melilit karang-karang hitam yang sudah mati. “Itu karang kecil yang hijau-hijau itu ditanam sudah empat tahun lalu.

 Bayangkan, betapa lamanya harus menyulam tumbuhan karang untuk benar-benar sempurna seperti semula,” ujar Uniroh.  Di tengah snorkeling itu, sedikit mengulik kondisi karang-karang di Perairan Lampung yang semakin punah karena kejahilan para oknum pengebom ikan. 

Menurut Uniroh, karang-karang tersebut banyak mati karena ulah para pengebom ikan yang serakah. Jika penangkapan ikan laut dilakukan secara ramah, tentunya keindahan alam bawah laut tidak akan terus terjaga. Namun, dia bersyukur, saat ini semakin banyak pecinta alam, termasuk marinir dan masyarakat yang ikut menjaga kelestarian alam bawah laut dengan menanam kembali terumbu karang. 

“Yah,  tapi begitu, ini semua akan benar-benar bisa dinikmati belasan tahun kemudian, karena karang itu tumbuh sangat lama. Ini adalah tugas kita untuk menjaganya bersama-sama,” tuturnya. Pertualang bawah laut berakhir di spot ini. Hari semakin sore, satu persatu peserta berangsung naik ke perahu, dan beranjak balik ke basecamp di Pulau Tegal.   

(RINDA MULYANI)








Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.

1 komentar so far

Ternyata di lampung ada pulau yang namanya pulau tegal. Aku pikir tadinya wisata bahari di tegal loh heheheh


EmoticonEmoticon