Monday, 28 August 2017

Gagal Ginjal Gara-Gara Minum Obat Sembarangan

LELAKI tua itu duduk di pinggir kasur tipis rumah singgah Komunitas Peduli Generasi Lampung, Bandar Lampung, Jumat (25/8/2017). Separuh bola matanya ditutupi oleh lemak putih kekuningan, tapi masih mampu menangkap wajah lawan bicaranya. “Saya ini bingung lo mbak, saya pengen sembuh, capek sakit begini. Kasihan juga sama ibunya anak-anak, di kampung sendirian ngurus kebon karena saya harus berobat disini,” ujar Suyanto yang terpaksa meninggalkan keluarganya di Kotabumi, Lampung Utara karena harus cuci darah dua kali seminggu.

Pasien gagal ginjal, Suyanto saat ditemui di Rumah Singgah
Komunitas Peduli Generasi Lampung, Bandar Lampung, Jumat (25/8/2017).
Suyanto divonis dokter mengalami gagal ginjal dua bulan lalu. Menurutnya, setiap mengalami pegal atau sakit pinggang, dia memilih minum obat-obatan warung. Sampai akhirnya, pada Ramadan lalu, Suyanto mengalami muntah-muntah, tidak nafsu makan, dan demam tinggi. “Diperiksa sama dokter di rumah sakit Kotabumi, katanya maag, ya udah saya dikasih obat maag, eh akhirnya malah parah dan kritis, dirujuk ke Rumah Sakit Abdul Moeloek, kata dokternya komplikasi ada jantung, paru-paru dan gagal ginjal. Ya, gara-gara minum obat sembarangan itu,” ujar Suyanto.
Awalnya Suyanto bolak-balik dari Kotabumi ke Bandar Lampung untuk melakukan cuci darah. Saat antri, dia duduk-duduk di teras Rumah Sakit Abdul Moeloek. Saat itulah Suyanto diajakn oleh tukang sapu rumah sakit untuk tinggal di rumah singgah Komunitas Peduli Generasi Lampung. “Saya dikasih tahu Bapak nggak usah bolak-balik ke rumah sakit, kasihan kan ongkosnya besar, jadi saya diantar ke rumah singgah ini. Ya, benar, akhirnya saya tidak bolak-balik, tidur disini, dua kali semingu cuci darah, jadi lebih hemat,” tuturnya.

Baca juga : Kesabaran Rinjani Merawat Bayi Hidrosepalus
 
Menurut Suyanto, walaupun dia berobat gratis menggunakan kartu JKN-KIS yang preminya dibayarkan oleh pemerintah, tapi tetap saja mengeluarkan biaya untuk transportasi dan biaya hidup selama berobat di rumah sakit. “Alhamdulillah diajak kesini, dulu itu sebulan saya habis Rp2 juta mbak, aduh biaya besar untuk ongkos sama makan. Kalau sekarang kan nggak lagi, sehari cuma bayar Rp.5.000 untuk beli sayur sendiri, nasi sudah disediakan disini,” ujarnya dengan wajah sumringah. 
Sejenak, Suyanto diam dan menarik nafas panjang. Beberapa kali Suyanto mengungkapkan keinginannya untuk segera sembuh. Apalagi, dia hanya sendiri di rumah singgah tersebut tanpa pendamping. Istrinya harus mengurus kebun, sedangkan anaknya bersekolah. “Anak saya masih sekolah, SMA, jadi nggak bisa diganggu,” kata dia.

(RINDA MULYANI)





Blog ini mengajikan berita dan analisis yang sesuai dengan kaidah jurnalisik. Ditulis dalam bentuk feature.


EmoticonEmoticon